Tembok Pemisah

Minggu, 08 November 2020

Bacaan hari ini: Efesus 2:11-22 | Bacaan setahun: Pengkhotbah 8, Yeremia 28-30



“Demikianlah kamu bukan lagi orang asing atau pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah.” (Efesus 2:19)

Ada tembok pemisah di antara orang Kristen Yahudi dan non Yahudi dalam kehidupan berjemaat di Efesus. Orang Kristen Yahudi merasa diri lebih baik dari bangsa lain karena mereka adalah bangsa pilihan, kaum bersunat, sangat berpegang pada Taurat. Sedangkan orang Kristen non Yahudi bukan bangsa pilihan, tidak bersunat, sehingga diperlakukan berbeda, misal: orang Yahudi tidak mau masuk ke rumah orang non Yahudi (Kisah Para Rasul 11:2-3), tidak mau makan bersama dengan orang non Yahudi (Galatia 2:11-14). Oleh sebab itu, Paulus mengingatkan bahwa kematian Kristus telah merobohkan tembok pemisah, yaitu perseteruan (ay. 14), sehingga tidak ada lagi perbedaan, orang Kristen non Yahudi tidak lagi dipandang sebagai orang asing dan pendatang. Semua orang percaya sudah diperdamaikan di dalam Kristus dan dipersatukan dalam satu tubuh, sebagai warga Kerajaan Allah (kawan sewarga) dan juga anggota keluarga Allah yang dibangun atas dasar pengajaran yang bersumber dari wahyu Allah dengan Kristus sebagai batu penjuru (ay. 19-20). Sebagai anggota keluarga Allah, mereka adalah setara dan memiliki hak yang sama.

Jika demikian, adakah “tembok pemisah” dalam diri gereja masa kini? Meskipun mungkin hal itu tidak tertulis dan tidak secara sengaja dibuat, dalam prakteknya ada sebagian orang Kristen yang merasa menjadi “kelas satu ataupun kelas dua.” Apakah itu terkait dengan status sosial, ekonomi, ras, atau bahkan dalam hal yang kelihatannya rohani, yaitu jabatan dalam pelayanan. Jika itu terjadi, marilah kita kembali kepada kebenaran firman Tuhan bahwa setiap orang yang percaya pada Kristus telah dipersatukan menjadi satu keluarga Allah, dimana semua mempunyai hak dan tanggung jawab yang sama untuk membangun tubuh Kristus. Jadi tidak ada lagi yang merasa lebih pantas, lebih baik, ataupun lebih berhak sehingga merekalah yang berkuasa dalam mengatur gereja. Namun sebaliknya, juga tidak ada lagi yang merasa tidak pantas, tidak berhak sehingga tidak mau ikut ambil bagian dalam pembangunan tubuh Kristus (gereja).

STUDI PRIBADI :
(1) Mengapa masih ada perbedaan bahkan “tembok pemisah” di dalam gereja?
(2) Apa saja yang harus kita lakukan agar “tembok pemisah” itu bisa dirobohkan?

Pokok Doa : Berdoalah agar setiap jemaat menyadari bahwa mereka adalah anggota keluarga Allah, anggota tubuh Kristus yang memiliki hak dan juga kewajiban yang sama dalam pembangunan tubuh Kristus. 

Sharing Is Caring :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *