Visi Dan Misi

Visi dan Misi

VISI

Sehat
Dinamis
Missioner

Gereja yang dapat memfungsikan semua organnya dengan baik dan optimal, sehingga menghasilkan esensi kualitas yang baik dalam ibadah, pembinaan, persekutuan, penggembalaan, pelayanan, dan penginjilan.

Gereja yang terbuka terhadap perubahan untuk menjadi semakin baik, tidak monoton dan tidak menutup diri terhadap perkembangan. Inti Injil tidak boleh berubah, tapi cara menyampaikannya perlu terus dievaluasi. Gereja harus berani melangkah dan mencoba cara-cara yang baru, serta memanfaatkan berbagai kemajuan teknologi demi kemajuannya.

Gereja yang mengarahkan seluruh potensinya untuk mendukung semua usaha pekabaran Injil dan memenangkan jiwa bagi Kristus, baik di gereja-gereja lokal, yayasan-yayasan dan dalam pengutusan misi dunia.

MISI

Membangun kerohanian jemaat melalui ibadah
Membina iman jemaat melalui pemuridan
Mengakrabkan jemaat melalui persekutuan
Menyalurkan kasih dan karunia jemaat melalui pelayanan
Memobilisir jemaat untuk penginjilan

Kita percaya bahwa jemaat yang menghadiri ibadah gereja di mana kehadiran Allah begitu jelas dirasakan dan berita firman Allah dimengerti dengan baik, maka ibadah itu akan membangun kerohanian jemaat, yang diperlihatkan dengan hal-hal sebagai berikut: iman menjadi lebih kuat, harapan menjadi lebih terang, kasih menjadi lebih dalam, simpati menjadi lebih luas, hati menjadi lebih murni, dan kehendak melakukan kehendak Tuhan menjadi lebih bulat.

Mengingat Allah membangun kerohanian umat-Nya melalui ibadah, maka gereja harus mempersiapkan setiap bagian ibadah (lagu puji-pujian, iringan musik, khotbah, doa, pengakuan iman, persembahan, dll.) dengan secermat dan sebaik mungkin. Puji-pujian yang dinaikkan haruslah yang dapat mengagungkan Tuhan dan mengangkat hati jemaat. Demikian pula firman Allah yang disampaikan harus praktis, mudah dimengerti, dan dapat menjawab pergumulan-pergumulan hidup jemaat sehari-hari.

Amanat Agung Kristus ditujukan kepada semua pengikut-Nya dan semua gereja Tuhan. Amanat ini menyatakan sasaran, tanggung jawab, dan penugasan gereja dalam TUGAS MISIONER-NYA. Inti dari Amanat Agung ini adalah PEMURIDAN, dan pemuridan haruslah menjadi satu-satunya misi gereja, bukan sekedar program gereja, tetapi menjadi gaya hidup yang harus ada di dalam gereja.

Setiap manusia mempunyai beberapa pencarian kehidupan dalam dirinya, salah satu adalah pencarian komunitas. Pencarian komunitas adalah pencarian untuk mendapatkan akar, rasa memiliki dan dimiliki dalam suatu kelompok, di mana melaluinya ia dapat membangun suatu relasi yang penting dan membagi sukacita dan beban hidup serta mampu saling mempedulikan.”

Gereja memiliki potensi yang amat besar untuk memenuhi kebutuhan di atas melalui persekutuan-persekutuan di gereja atau kelompok-kelompok kecil. Untuk mengukur nilai kasih, dapat dinilai dari seberapa banyak waktu yang dihabiskan oleh anggota-anggota gereja secara bersama? Seberapa besar jemaat saling menghargai dan memberi hormat? Adakah suasana keakraban di dalam gereja? Gereja yang bertumbuh dikenal sebagai Gereja yang memiliki persekutuan yang hangat dan saling memperhatikan yang tulus.

Greg Odgen berkata: “Semua umat Allah terpanggil untuk melayani” (All God’s people are called to ministry). Tapi sayang sekali, menurut survei yang dilakukan Schwarz terhadap 1600 orang Kristen aktif di Eropa yang berbahasa Jerman, ada 80 persen jemaat yang tidak dapat mengenali karunia mereka. Ini merupakan suatu tragedi karena menurut Schwarz, “Kekuatan terbesar dari tiap gereja adalah harta karunia rohani yang Allah sudah berikan kepada anggotanya.”

Setiap orang percaya pasti menerima minimal satu karunia dalam pelayanan. Karunia-karunia rohani diberikan demi kepentingan bersama, bukan untuk kepentingan pribadi. Dengan adanya karunia-karunia rohani, orang-orang percaya perlu belajar saling melayani dan membangun, sehingga seluruh anggota tubuh bertumbuh dalam kesatuan iman dan kesempurnaan dalam Kristus Yesus. Greg Odgen berkata, “Ketika karunia-karunia rohani dilakukan sesuai dengan kehendak Allah, hasilnya adalah kuasa Ilahi.”

Selanjutnya, perlu kita hayati pula bahwa pelayanan kepada Tuhan tidak semata-mata hanya di gereja, terbatas pada gereja lokal, tapi seharusnya juga di dalam dunia. Alkitab tidak berkata bahwa kita adalah terang dan garam gereja, tapi kita adalah terang dan garam dunia (Matius 5:13,14). Oleh sebab itu, peran dan panggilan Gereja di tengah dunia adalah secara aktif menyatakan kasih Kristus (Matius 22:37-39) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya dalam bidang pendidikan, kesehatan dan kepedulian sosial.

Gereja dapat bertumbuh menjadi besar karena memperoleh anggota-anggota yang baru melalui tiga cara:

  1. Biologis, yakni anak-anak dari keluarga-keluarga Kristen yang tumbuh menjadi dewasa, dilayani oleh gereja, dibawa kepada Kristus dan dipersiapkan untuk menjadi anggota-anggota gereja yang bertanggung jawab. Sebagian besar dari gereja-gereja di seluruh dunia tumbuh dengan cara yang seperti ini

  2. Perpindahan anggota gereja dari suatu gereja ke gereja yang lain. Ini terjadi misalnya gereja-gereja di kota menerima perpindahan dari anggota-anggota gereja dari kota-kota kecil karena kebutuhan sekolah atau pekerjaan

  3. Pertobatan jiwa-jiwa baru, yakni hasil pemberitaan Injil, dan menjadi anggota-anggota gereja.

Gereja perlu memberikan prioritas bagi pertumbuhan melalui memenangkan jiwa-jiwa baru, ini dikarenakan gereja Tuhan ada adalah untuk melaksanakan Amanat Agung. Gereja adalah duta-duta Kristus untuk menginjili dan memenangkan jiwa-jiwa yang terhilang. Tugas mengabarkan Injil sudah begitu penting sehingga tidak hanya sekadar tanggung jawab kita, tapi suatu kewajiban yang tak dapat dielakkan lagi.

Nilai-nilai : Kasih – Kebenaran – Kekudusan

Dalam pergaulan dan pelayanan, anak-anak Tuhan harus menerapkan kasih, kebenaran dan kekudusan. Nilai-nilai ini merupakan ciri-ciri anak-anak Tuhan yang berintegritas dan dapat dipercaya. Tanpa didukung oleh kasih, kebenaran dan kekudusan, betapa hebat dan berkarunia seorang anak Tuhan, semuanya akan menjadi sia-sia.

SEMANGAT : Saling membangun dalam kasih

Agar hubungan sesama jemaat dan pekerja dalam gereja harmonis, maka harus diterapkan semangat saling membangun dalam kasih. Dalam semangat ini, anak-anak Tuhan akan menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak memuliakan Tuhan, seperti saling mencurigai, saling melukai, dendam, dan membicarakan kejelekan sesama rekan di belakang. Bila ada perbedaan pendapat muncul, anak-anak Tuhan seharusnya belajar menyelesaikan perbedaan itu dengan arif dan bijaksana. Ini seperti nasihat Paulus kepada jemaat Korintus: ”Supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir” (1Kor. 1:10b).