Aku Adalah Aku

RABU, 2 FEBRUARI 2022

“Firman Allah kepada Musa: ‘AKU ADALAH AKU.’ Lagi firman-Nya: ‘Beginilah kau katakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.’” (Keluaran 3:14)

Bacaan hari ini: Keluaran 3:1-16 | Bacaan setahun: Keluaran 3

Allah mendengar jeritan kesengsaraan umat-Nya di Mesir, maka Allah memanggil Musa untuk membebaskan umat Israel dari perbudakan di Mesir. Namun Musa merasa takut, merasa tidak mampu untuk memimpin orang-orang Israel. Pengalamannya dulu ketika ia ditolak, tidak dipercaya ketika hendak melerai dua orang Ibrani yang sedang berkelahi, pasti membekas dalam ingatannya. Karena itu, Musa memberi berbagai pertanyaan (alasan) kepada Allah. Salah satunya adalah: “Bagaimana jika orang Israel bertanya tentang nama Allah yang mengutus aku?”

Mengapa Musa mengemukakan hal ini? Karena ia tahu dewa-dewa di Mesir memiliki nama masing-masing. Sedangkan Musa belum tahu nama Allah. Musa kuatir jika orang Israel di Mesir menanyakannya dan Musa tidak bisa menjawab, maka orang Israel akan menolaknya. Kemudian Allah memperkenalkan namanya: AKU ADALAH AKU, yang dalam bahasa Ibrani: EHYEH-AHSHER-EHYEH (YHWH). Nama ini menunjukkan identitas diri Allah dan otoritas yang Allah kerjakan: (1). Allah adalah satu- satunya Allah, tidak ada allah lain; (2). Allah ada dari diri-Nya sendiri, tidak bergantung pada hal lain apapun; (3). Allah adalah kekal dan tidak dapat berubah, baik dulu, sekarang maupun yang akan datang. Louis Berkhof dalam Teologi Sistematika, menuliskan: “Ketidakberubahan Allah ini bukan pada hakikat-Nya yang disorot, namun pada hubungan Allah dengan umat-Nya”; (4). Allah satu-satunya yang memegang otoritas atas seluruh alam semesta. Dari jawaban Allah ini seharusnya membuat Musa memahami perbedaan antara Allah dengan dewa-dewi lainnya dan membuatnya yakin untuk menerima panggilan Allah tersebut. Namun ternyata Musa masih belum yakin dan mengemukakan dalih-dalih lainnya.

Allah telah memperkenalkan bukan hanya sekadar nama-Nya, namun Allah memperkenalkan lebih jauh diri-Nya. Apakah kita sudah mengenal dengan benar siapa Allah? Apakah pengenalan kita kepada Allah membuat kita makin percaya kepada-Nya dan menguatkan kita dalam menghadapi berbagai kondisi kehidupan kita?

STUDI PRIBADI: Mengapa Musa terus berusaha menolak panggilan Allah? Bagaimanakah akhirnya Musa dapat menerima panggilan Allah?

Pokok Doa: Berdoalah bagi setiap anak Tuhan agar terus punya kerinduan untuk semakin mengenal dan mengalami Allah secara pribadi, dalam hidup sehari-harinya.  

Sharing Is Caring :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *