Keteladanan

Minggu, 18 Mei 2020

Bacaan hari ini: Yohanes 13:1-20 | Bacaan setahun: 1 Raja-Raja 17-18, 1 Korintus 4



Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; (Yoh 13:14 ITB)

Kata guru dalam khazanah Jawa merupakan akronim dari “digugu lan ditiru” yang artinya: didengarkan atau dipercaya dan diikuti atau diteladani; sehingga seorang guru bukan semata hanya pengajar dalam ruang kelas dengan materi akademis yang memikat dan kemampuan orasi yang menakjubkan, pengetahuan moral, etika yang mumpuni, atau pengetahuan ilmu alam dan ilmu kalam, namun lebih kepada seorang yang dapat memberikan teladan baik, dalam kata maupun karya yang menyatu dalam hidup dan kesehariannya.

Dalam perjamuan terakhir yang Yesus lakukan bersama para murid dimana Iblis mulai beraksi membisikkan pengkhianatan ke telinga Yudas (ay. 2), Yesus yang sadar untuk menyelesaikan misi-Nya dari Bapa (ay. 3), dan tiba-tiba Yesus melakukan tindakan mencengangkan: menanggalkan jubah, mengambil kain dan sebaskom air, membungkukkan badan dan berlutut membasuh kaki para murid-Nya. Sang Guru Agung merendahkan diri-Nya, menundukkan hati, dan menjadi hamba bagi murid-murid-Nya. Murid-murid terkejut. Petrus bereaksi spontan, tetapi justru Yesus bertanya dan berkata, “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan” (Yoh. 13:12-13, ITB).

Membandingkan dengan situasi gereja masa kini, orang Kristen (baca; Gereja) seolah menjadi gagap hingga gagal faham akan panggilannya, lupa menjadi teladan. Sendjaya dalam bukunya: Kepemimpinan Kristen, menuliskan: Yesus mengajarkan servant leadership dengan sangat jelas: “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Mrk. 10:45). Esensi pemimpin Kristen tidak terletak pada jabatan, pangkat, gelar, karisma, atau kapabilitas, namun pada “kain dan basi” sebagaimana teladan Yesus ketika Ia membasuh kaki murid-murid-Nya. Namun filosofi kepemimpinan yang bibilikal ini diaborsi oleh para pemimpin Kristen. Satu keteladanan jauh lebih berdampak daripada seribu kata manis tanpa karya nyata. Benarlah pepatah yang berbunyi, Actions speak louder than words.


STUDI PRIBADI :

(1) Keteladanan apa yang Anda pelajari dari Yesus? Tindakan apa yang bisa kita lakukan?
(2) Bagaimana Anda memaknai“kain dan basi” dalam hidup sehari-hari?

Berdoalah : Tuhan Yesus, tuntunlah kami supaya kami dapat menjadi berkat dan juga teladan bagi sekeliling, serta senantiasa menghadirkan Kristus melalui kehidupan kami, Amin. 

Sharing Is Caring :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *