Hidup Itu Berat

Bacaan hari ini: Ayub 7
“Bukankah manusia harus bergumul di bumi, dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan?” (Ayub 7:1)

Dalam pelayanan pastoral, sering dengar jemaat curhat,–bila tidak mau dikatakan mengeluh, bahwa hidup yang dijalani terasa begitu berat. LAI memberi judul perikop firman ini “Hidup itu berat”. Beban berat ini bisa berkaitan dengan kesulitan ekonomi, gangguan kesehatan, masalah rumah tangga atau yang lainnya. Sebenarnya, setiap pribadi yang masih hidup takkan luput dengan apa yang dinamakan beban hidup yang harus ditanggungnya, meskipun dalam bentuk dan porsi yang berbeda-beda satu dengan lainnya.

Yang membedakan adalah respons dari pribadi dalam menghadapi atau menjalani hidup yang dikatakan berat itu. Di dalam Ayub 7:1-21, kita akan melihat respons Ayub dalam menghadapi beban berat yang menimpa dirinya, ini tentunya berbanding terbalik atau berbeda 180 derajat dari sikap istrinya. Ayub tidak menunjukkan sikap putus asa dan menyerah pada keadaan. Tidak berprasangka buruk atau mencurigai Tuhan, sebaliknya Ayub tetap percaya kepada kebaikan Tuhan. Inilah yang patut kita teladani, supaya ketika diperhadapkan dengan beban hidup yang berat, kita tetap kuat dan tidak gampang menyerah, apalagi sampai menyalahkan Tuhan atau menyangkali Tuhan.

Hari ini, mungkin di antara kita ada yang sedang menanggung beban berat dalam menjalani hidup, baik itu berkenaan dengan masalah keluarga, kesehatan, keuangan atau lainnya. Ingatlah akan undangan Tuhan Yesus, ketika Ia berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat. 11:28). Tuhan Yesus adalah Pribadi yang dapat kita andalkan pada saat hidup terasa berat, Dia berjanji akan memberikan kelegaan, sentosa kepada yang datang kepada-Nya dan mau senantiasa mengandalkan-Nya. Rasul Paulus adalah rasul yang telah mengalami janji undangan Tuhan Yesus, sehingga ia berkata, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp. 4:13). Maukah Anda mengalami janji Tuhan ini? Datanglah kepada-Nya sekarang juga!

STUDI PRIBADI:

  1. Bagaimanakah Ayub menggambarkan penderitaan kehidupannya?
  2. Makna rohani apakah yang dapat kita pelajari dari perenungan Firman Tuhan ini?

DOAKAN BERSAMA: Berdoalah bagi setiap jemaat agar Tuhan memberikan kekuatan dan hikmat-bijaksana untuk menjalani dan melewati berbagai pergumulan hidupnya, Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *