14 Mei 2023

RINGKASAN KHOTBAH
14 Mei 2023

Bahan Pertemuan Kelompok Kecil

TELADAN IMAN YANG TULUS SEORANG IBU

Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.

2 Timotius 1 : 5

Pendidikan umum bagi seorang anak sangat penting. Namun, Alkitab mengajarkan bahwa pendidikan rohani dan karakter lebih utama. Menurut tradisi Yahudi, anak laki-laki diajar oleh ayah mereka. Menariknya, Timotius dilahirkan dari seorang ibu Yahudi dan ayah Yunani (Kis. 16:1). Sehingga Eunike sebagai ibu dan Lois sebagai neneknya yang kemudian menjadi sosok pembina iman bagi Timotius. Paulus sendiri hadir dalam kehidupan Timotius dan menjadi “bapa rohani.”

Dalam Kisah Para Rasul 16 diceritakan bagaimana Paulus bertemu dengan Timotius. Paulus datang ke Derbe dan Listra. Di situ ada seorang muda bernama Timotius; ibunya adalah seorang Yahudi dan telah menjadi percaya, sedangkan ayahnya seorang Yunani. Tidak ada data yang pasti, siapa yang memberitakan Injil kepada Lois dan Eunike. Mungkin saja mereka bertobat oleh karena penginjilan Paulus, tetapi yang jelas iman dari Eunike ini adalah iman yang murni.

Melalui kisah ini, paling tidak ada dua hal yang dapat dipelajari. Pertama, panggilan seorang ibu. Pengenalan akan firman Tuhan merupakan hal yang sangat penting seperti yang dialami Timotius pada masa kecilnya. Lois dan Eunike tekun mengajarkan kebenaran firman Tuhan kepadanya. Dengan didikan yang saleh ini Timotius dinasehati agar jangan merosot moralnya. Dan ketika Timotius dewasa dia menjadi seorang remaja atau pemuda yang baik. Lebih jauh, firman Tuhan yang didapatnya sangat berguna di dalam memimpin jemaat Efesus. Timotius yang kemudian dipercaya memimpin jemaat Efesus memiliki tantangan yang tidak mudah. Efesus terkenal dengan kota seribu berhala. Dimana ajaran-ajaran sesat dan kemunafikan adalah hal yang wajar beredar. Ini sesuatu yang sangat kontras. Lois dan Eunike mengajarkan iman yang murni, sedangkan Efesus mengajarkan iman kemunafikan. Frase “iman yang tulus ikhlas” memiliki bahasa asli ἀνυπόκριτος, yang berarti tanpa kemunafikan, asli, tulus. Menariknya kata ini juga muncul di dalam surat yang pertama di dalam konteks melawan ajaran-ajaran sesat yang berkembang di Efesus (1Tim. 1:5). Dengan kata lain, Paulus melihat bahwa ketulusan adalah cara ampuh melawan godaan ajaran Efesus. Tantangan iman yang palsu itu berusaha menyesatkan jemaat dan berlaku jahat (2Tim. 2:17-19), seperti Demas (4:10), dan Aleksander, tukang tembaga yang telah banyak berbuat kejahatan terhadap Paulus (4:14). Iman Demas dan Aleksander tidaklah murni. Sebaliknya, ketekunan Timotius dalam menghadapi tantangan menunjukkan bahwa imannya itu tulus dan murni.

Sebagai seorang ibu dalam kesatuan keluarga, kita diajak untuk turut mendidik anak-anak kita sesuai dengan kebenaran Tuhan. Karena kebenaran firman Tuhan mampu menguatkan kaki mereka untuk berjalan di tengah tantangan dunia yang menakutkan. Di dalam khotbahnya, Charles H. Spurgeon mengatakan orang tua yang mendoakan anak-anaknya dan mengandalkan pertolongan Tuhan akan menerima hikmat Tuhan untuk membimbing anak mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus dan mempunyai motivasi hati mau belajar firman Tuhan.

Kedua, panggilan seorang anak. Keluarga Yahudi sangat ketat dan hati-hati menerapkan sistem pendidikan bagi anak-anak mereka. Sejak usia tiga tahun, anak-anak sudah mulai menerima pengajaran agama dari orang tua mereka. Bahkan sebelum seorang anak dapat berbicara, orang tua sudah harus memperkenalkan anak-anak kepada ritual-ritual keagaaman (Ul. 6:4-9). Peranan Lois dan Eunike bagi kerohanian Timotius sangat vital, karena ayah Timotius sendiri bukanlah seorang Yahudi maupun seorang yang beriman. Tentu ini bukan perkara yang mudah bagi Lois dan Eunike yang hidup dalam tradisi Yahudi, dimana ayah juga memegang peranan penting. Hidup dalam situasi beda budaya seperti ini jelas tidak mudah. etika Yahudi seringkali sangat berbeda (bahkan bertentangan) dengan etika Yunani-Romawi kuno. Konsep religius mereka bahkan bertabrakan. Praktik hidup pun pasti berlainan. Oleh sebab itu, perjuangan Lois dan Eunike untuk meletakkan pondasi yang kuat bagi kerohanian Timotius perlu untuk selalu dihargai.

Pengorbanan yang sama tentu pernah dilakukan seorang ibu kepada anak-anaknya. Entah seberapa besar pengorbanan seorang ibu – karena ada juga ibu yang justru tidak mau mengasuh anaknya, tetapi paling tidak seorang anak berhutang nyawa ketika ia dilahirkan. Sedangkan keberadaan seorang anak di dalam dunia ini adalah sebuah kedaulatan Allah. Oleh sebab itu, ditengah-tengah keberdosaan dan kelemahan seorang ibu, anak tetaplah harus menghormati dan menghargai mereka. Bukankah Yesus sendiri pernah dianggap tidak waras oleh keluarga-Nya (Mrk. 3:21). Namun, itu tidak menghalangi Dia untuk mengingat ibu-Nya dan menghargai meski kematian sudah menghadang (Yoh. 19:26-27). Kiranya relasi ibu dan anak semakin erat ketika Allah hadir di tengah-tengah keluarga.

×

Kisah Para Rasul 16 : 1

1 Paulus datang juga ke Derbe dan ke Listra. Di situ ada seorang murid bernama Timotius; ibunya adalah seorang Yahudi dan telah menjadi percaya, sedangkan ayahnya seorang Yunani.

×

1 Timotius 1 : 5

5 Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas.

×

2 Timotius 2 : 17-19

17 Perkataan mereka menjalar seperti penyakit kanker. Di antara mereka termasuk Himeneus dan Filetus,

18 yang telah menyimpang dari kebenaran dengan mengajarkan bahwa kebangkitan kita telah berlangsung dan dengan demikian merusak iman sebagian orang.

19 Tetapi dasar yang diletakkan Allah itu teguh dan meterainya ialah: "Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya" dan "Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan."

×

2 Timotius 4 : 10

10 karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku. Ia telah berangkat ke Tesalonika. Kreskes telah pergi ke Galatia dan Titus ke Dalmatia.

×

2 Timotius 4 : 14

14 Aleksander, tukang tembaga itu, telah banyak berbuat kejahatan terhadap aku. Tuhan akan membalasnya menurut perbuatannya.

×

Ulangan 6 : 4-9

4 Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!

5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.

6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,

7 haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.

8 Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu,

9 dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.

×

Markus 3 : 21

21 Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi.

×

Yohanes 19 : 26-27

26 Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!"

27 Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.

  1. Bagikan pada anggota yang lain apa hal yang paling membekas bagi Anda dari kotbah hari Minggu kemarin (Ilustrasi? Poin kotbah? Suasana hati Anda? Dsb)? Mengapa?
  2. Menurut Anda, apa yang seharusnya dilakukan seorang ibu kepada kita dan seorang anak kepada kita?
  3. Sebagai seorang ibu, bagaimana cara kita untuk mengajarkan firman Tuhan sejak dini?
  4. Sebagai seorang anak, bagaimana cara kita menghargai dan menghormati pengorbanan ibu kita?

Tuliskan sebuah komitmen bagaimana cara Anda untuk melayani Tuhan melalui keluarga!

  1. Doakan relasi yang retak antara ibu dan anak dapat pulih.
  2. Doakan agar kasih Kristus semakin nyata di dalam keluarga.
Download Ringkasan Khotbah
Download Ringkasan Khotbah
Tutup Ringkasan Khotbah
Tutup Ringkasan Khotbah