Bersimpati

Senin, 25 Januari 2021

Bacaan hari ini: Ibrani 4:14-5:10 | Bacaan setahun: Keluaran 12-13, Matius 25



“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” (Ibrani 4:15, ITB)

Yesus adalah Allah yang menjadi manusia; dalam diri-Nya, Yesus memiliki natur sebagai manusia sejati, sekaligus juga adalah Allah sejati. Dan dalam kemanusiaan-Nya itu, kitab Ibrani mencatatkan bagaimana Yesus meratap, menangis (band. Yoh. 11:33-35), dan berdoa kepada Bapa. Sebagai manusia, Yesus juga merasakan lapar, sedih, marah, bahkan dicobai, dan sebagainya. Namun yang membedakan Yesus dengan manusia biasa di dunia adalah Ia tidak berdosa atau berbuat dosa, Yesus adalah manusia sempurna yang menaati Bapa-Nya. Petrus yang hidup bersama Yesus dan menjadi murid-Nya, mencatat dengan mengutip nubuatan Yesaya 53:5-9 dalam 1Petrus 2:22 (BIS), bahwa “Ia tidak pernah berbuat dosa, dan tidak pernah seorang pun mendengar Ia berdusta.”

Menarik bahwa Yesus sebagai Imam Besar adalah Imam Besar yang dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita sebagai manusia. Kata “turut merasakan” yang digunakan berasal dari kata Yunani sumpayhsai, atau biasa dilafalkan soom-path-eh’-o, yang berarti seperasaan dengan, bersimpati dengan; atau dalam Ibrani 10:34 diterjemahkan turut memikul penderitaan. Satu sikap yang berasal dari dalam hati dan emosi dengan menempatkan diri berada dalam kondisi dan situasi yang sama sehingga dapat ikut merasakan. Ini adalah sikap peduli dan kasih, belas kasihan dan perasaan iba mendalam serta ingin turut menanggung bersama-sama.

Di tengah situasi yang sulit seperti saat ini, bagian Firman Tuhan ini menjadi sumber menjadi kekuatan dan penghiburan sejati. Yesus tahu kelemahan, pergumulan, penderitaan, kekecewaan, bahkan kemarahan kita, dan Ia bersimpati, turut merasakan, Yesus adalah Sang Immanuel! Undangan untuk menghampiri takhta kasih karunia Allah dan mendapat pertolongan pada waktu-Nya adalah undangan bagi setiap kita, setiap saat, dalam segala keadaan dan kelemahan kita. Datanglah kepada Tuhan dan serahkan semuanya kepada-Nya, karena Ia PASTI menolong pada waktu-Nya. Itu janji-Nya! Bukan hanya itu, Tuhan mau kita juga bersimpati kepada saudara seiman dan sesama.

STUDI PRIBADI : Tahukah, bahwa Yesus peduli kepada Anda? Apakah janji Tuhan ketika kita menyerahkan kekuatiran kepada-Nya? Adakah orang yang perlu mendapat simpati Anda?

Berdoalah : Tuhan Yesus, berikan kepada kami hati yang mengasihi sesama terutama mereka yang sedang dalam kesulitan agar kami mampu mengasihi dan memperhatikan mereka, Amin.  

Sharing Is Caring :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *