Adakah “Imposter” Di Tengah Kita ?

Selasa, 12 Januari 2021

Bacaan hari ini: Titus 3:1-15 | Bacaan setahun: Kejadian 29-30, Matius 12



“Seorang bidat yang sudah satu dua kali kaunasihati, hendaklah engkau jauhi. Engkau tahu bahwa orang yang semacam itu benar-benar sesat dan dengan dosanya menghukum dirinya sendiri.” (Titus 3:10-11)

Impostor, kata dalam bahasa Inggris yang berarti “penipu,” merupakan sebuah kata yang sedang nge-trend saat ini. Istilah ini muncul karena sebuah game yang sedang viral yakni “Among Us.” Salah satu yang menarik dalam game ini adalah bermain sebagai impostor. Pemain yang mendapat peran sebagai impostor mempunyai tugas utama: mencelakai semua pemain yang bukan impostor, misal dengan melakukan sabotase, menunggu pemain yang bukan impostor untuk dibunuh, melakukan penipuan atau menyebarkan hoax agar pemain lain tertipu. Jadi asalkan tidak ketahuan pemain lain, seorang impostor bisa memenangkan game ini apabila ia bisa menghabisi semua pemain yang bukan impostor. Game ini mengingatkan kita untuk berhati-hati, bisa jadi ada impostor di tengah-tengah kita hidup dalam masyarakat.

Berkenaan dengan teks yang kita baca hari ini, Paulus sebenarnya hendak meminta kepada Titus agar menjelaskan kepada jemaat di Kreta, sikap hidup orang yang sudah bertobat dan menerima kasih karunia dari Tuhan Yesus. Orang yang sudah bertobat seharusnya tunduk kepada pemerintah yang ada, tidak memfitnah, tidak bertengkar, tidak melakukan perbuatan jahat lagi karena mereka seharusnya sudah meninggalkan manusia lamanya, yakni dosa-dosa mereka (ay. 2-4). Jadi apabila mereka yang mengaku sudah bertobat dan menerima kasih karunia dari Kristus, masih melakukan perbuatan jahat dalam arti terus-menerus melakukan dosa lama, bukankah patut dipertanyakan pertobatan mereka? Bukankah mereka ini sama seperti impostor? Ngakunya Kristen tapi suka bertengkar, ngakunya majelis/aktivis tapi masih suka memfitnah bahkan menyebabkan perpecahan dalam tubuh jemaat sehingga tidak menunjukkan sikap hidup sebagai orang Kristen. Bukankah yang demikian dapat disebut sebagai impostor? Itulah sebabnya Paulus katakan bahwa orang yang seperti ini disebut sebagai “bidat” (ay 10-11). Jadi sebagai orang Kristen hendaknya mengalami transformasi secara progresif dan menunjukkan sikap hidup sebagai orang Kristen.

STUDI PRIBADI : Setelah pertobatan, kita harus mengalami transformasi secara progresif. Sudahkah kita mengalaminya? Apakah kita mau dipimpin-Nya menjadi serupa Kristus?

Pokok Doa : Berdoa agar Tuhan mengubahkan kita secara progresif menjadi serupa Kristus. Supaya orang yang belum percaya dapat melihat perubahan hidup kita, yang dapat membawa mereka kepada Kristus dan bertobat.

Sharing Is Caring :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *