Sebab Jika Aku Lemah, Maka Aku Kuat

Senin, 19 Oktober 2020

Bacaan hari ini: 2 Korintus 12:1-10 | Bacaan setahun: Yesaya 40-41, Amsal 19



“Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” (2 Korintus 12:10)

Pada perikop ini, Paulus menyampaikan 2 hal yang berbeda. Dalam ayat 1-6, Paulus menceritakan pengalaman supranatural, yang tidak semua orang pernah mengalami, yaitu diangkat ke surga. Paulus menceritakan hal itu karena telah 14 tahun ia menyimpan pengalaman itu. Saat itu, Paulus menghadapi orang-orang yang meragukan kerasulannya, sehingga ia terpaksa menyampaikan untuk menunjukkan kerasulannya agar berita yang disampaikan tidak diremehkan.

Kemudian, di ayat 7-10 Paulus menceritakan penderitaannya yang ia istilahkan dengan “duri dalam daging”. Memang tidak dijelaskan secara gamblang maksud duri dalam daging itu. Ada yang menafsirkan sebagai penyakit, ada juga yang menafsirkannya sebagai kesulitan, penganiayaan dalam pelayanan. Namun secara umum dapat dipahami sebagai segala sesuatu yang tidak mengenakkan, mengganggu dan membuat Paulus menderita. Karena jelas, Paulus pun sempat tiga kali berdoa mohon agar utusan Iblis yang memberinya “duri dalam daging” itu pergi dari padanya. Namun Tuhan tidak kabulkan. Paulus paham alasan Tuhan mengizinkan penderitaan itu ia alami: (1). Agar Paulus tidak meninggikan diri (sombong) dengan pengalaman rohani supranatural yang pernah ia alami (ay. 7). Itu semua hanya karena kasih karunia Tuhan, bukan karena kebaikan, atau kehebatannya; (2). Justru saat ia merasa lemah, Paulus merasakan kuasa Tuhan yang bekerja dengan luar biasa untuk membuat dia kuat.

Apakah saat ini Anda juga sedang mengalami “duri dalam daging”, kesulitan, penderitaan yang tiada hentinya? Ingatlah pengalaman Paulus dan respons Paulus. Dalam kelemahan, Paulus memilih untuk merasakan “berkat” Tuhan. Pilihlah untuk bisa merasakan berkat kasih karunia Tuhan, datanglah dan teruslah berpegang, bersandar kepada Tuhan Yesus, Sang Sumber kekuatan. Jika kasih karunia Tuhan cukup untuk menyelamatkan kita, pasti cukup juga untuk menjaga, memelihara dan menguatkan kita pada masa-masa penderitaan. Kita dapat berkata, “jika aku lemah, maka aku kuat” karena Tuhan.

STUDI PRIBADI :
(1) Apakah yang menjadi “duri dalam daging” dalam hidup Anda?
(2) Bagaimana selama ini Anda memandang dan meresponi “duri dalam daging” tersebut?

Pokok Doa : Berdoa bagi setiap anak Tuhan, agar dapat meresponi dengan benar setiap penderitaan, yaitu dengan terus melekat pada Tuhan sehingga mengalami kasih karunia Tuhan yang akan menguatkannya. 

Sharing Is Caring :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *