Yesus Mati Di Salib

Selasa, 04 Februari 2020

Bacaan hari ini: Markus 15:33-47 | Bacaan setahun: Keluaran 34-35, Markus 7



“Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat mati-Nya demikian, berkatalah ia: Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!” (Markus 15:39)

Mati di kayu salib sebenarnya adalah sebuah hal yang memalukan dan tragis dalam hidup seseorang. Mengapa? Karena salib adalah hukuman tertinggi dan terkejam yang dijatuhkan oleh pemerintah Romawi hanya kepada para narapidana yang bukan warga negara Romawi. Biasanya hukuman ini diberikan kepada penjahat kelas kakap atau pemberontak untuk menjadi peringatan bagi yang lain. Tidak heran, bersama Yesus pada waktu itu ikut disalibkan dua penjahat di sebelah Dia.

Tetapi apa yang terjadi dalam peristiwa salib Tuhan Yesus menjadi peringatan bahwa kematian Tuhan Yesus bukan tragedi dan kesia-siaan. Pertama, di atas salib itu Tuhan Yesus menanggung dosa manusia dan ditinggalkan Allah Bapa karena Dia yang tidak berdosa telah dibuat berdosa karena kita. Allah yang kudus memalingkan wajah-Nya dari Tuhan Yesus yang di atas salib menanggung dosa manusia. Sehingga Tuhan Yesus berseru, “Eloi, Eloi, lama sabakhtani” (Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku). Kita jadi tahu betapa luar biasanya dosa itu, dan betapa besar kasih karunia Allah yang menghindarkan manusia berdosa dari penghukuman dosa karena telah digantikan oleh kematian Kristus. Kedua, pengakuan dari kepala pasukan ketika melihat kematian Kristus dan peristiwa yang meliputinya menjadi sebuah konfirmasi bahwa Kristus benar adalah Anak Allah. Kedua hal ini mengingatkan kita bahwa kematian Kristus bukan sekadar kematian seseorang karena menjunjung kebenaran, atau sekadar kematian karena difitnah, tetapi Dia mati karena menebus dosa kita.

Merenungkan akan kematian Kristus di atas kayu salib hendaknya membuat kita belajar untuk mengindahkan pengorbanan Kristus bagi kita. Kita belajar untuk mengindahkan berita Injil ini dalam hidup kita. Apakah hidup kita, yang telah ditebus Kristus dengan diri-Nya sendiri, benar-benar kita hidupi seturut kehendak Allah yang begitu mengasihi kita? Kiranya kita belajar mengasihi Tuhan Yesus lebih dalam lagi, karena Dia sudah lebih dahulu mengasihi kita dan masih terus mengasihi kita.

STUDI PRIBADI : Mengapa kematian Kristus di atas salib tidak sama dengan kematian orang-orang yang disalib pada umumnya ?

Pokok Doa : Berdoa bagi setiap jemaat agar memahami kasih karunia Allah yang besar di dalam Kristus dan belajar untuk mengindahkannya melalui kehidupan yang mengasihi Tuhan Yesus. 

Sharing Is Caring :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *