An Everlasting Love

Sabtu, 16 Maret 2019

Bacaan hari ini: Kidung Agung 6:2-13 | Bacaan setahun: Ulangan 13-14, Yohanes 7

 

”Cantik engkau, manisku, seperti kota Tirza, juita seperti Yerusalem…” (Kidung Agung 6:4a)

Kehidupan pernikahan tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya cinta itu sangat terasa, namun bisa berubah menjadi hambar ketika salah satu pasangan merasa kecewa dengan pasangannya. Namun demikian, setiap pasangan diharapkan dapat tetap mempertahankan cinta mereka dan mau memaafkan kesalahan pasangannya dan memulihkan hubungan. Hal inilah yang jarang terjadi di dalam kehidupan riil di dunia ini, termasuk kehidupan orang Kristen. Banyak di antara pasangan-pasangan itu lebih memilih berpisah daripada memaafkan pasangannya.

Pasal ini ingin menggambarkan bahwa sang mempelai laki-laki sudah memaafkan mempelai wanita yang sebelumnya telah mengabaikannya. Bukan hanya memaafkan, sang mempelai laki-laki juga telah menerimanya kembali dan bahkan memujinya. Sang mempelai wanita disebutkan manis seperti kota Tirza (kota di suku Manasye), yang artinya menyenangkan dan cantik seperti Yerusalem kota Allah. Mempelai laki-laki memuji kecantikan fisik mempelai wanita yang digambarkan memiliki kecantikan sempurna, yakni, “Cantik engkau, manisku, seperti kota Tirza, juita seperti Yerusalem, dahsyat seperti bala tentara dengan panji-panjinya.”

Gereja yang adalah mempelai Kristus seringkali mengecewakan Sang Mempelai surgawi. Namun, pada saat sang mempelai wanita bertobat, pada saat itu pula Kristus mengampuni dan menerima mempelai-Nya kembali. Mempelai Kristus yang bertobat dari kesalahannya tetap menjadi mempelai yang cantik, karena cinta Kristus lah yang menjadikannya cantik, bukan karena kebaikan atau kecapakan sang mempelai wanita. Karena kecantikan sang mempelai wanita sesungguhnya adalah karena kasih (= kasih karunia) dari Sang Mempelai Surgawi yang terpancar indah dalam hidupnya. Mempelai surgawi mencintai mempelai-Nya yaitu gereja dengan cinta yang abadi yang selalu menerima pertobatan mempelai-Nya. Cinta tidak berkesudahan yang harus terlihat keindahannya dalam kehidupan mempelai wanita-Nya.

STUDI PRIBADI: Sudahkah kita menjadi mempelai Kristus, yang menyadari keberdosaan kita, lalu bertobat dan kembali pada-Nya?

Pokok Doa: Berdoalah supaya kita menjadi mempelai Kristus yang selalu memancarkan keindahan kasih Kristus di dalam hidup kita, sehingga orang di sekitar kita melihat keindahan terang itu.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *